Selasa, 30 Desember 2014

CERPEN ( Lanjutan )

SEBUAH DOA YANG TERKABUL


LANJUTAN ...............

Tak lama, langit yang semula cerah mulai terlihat mendung. Dan pada malam harinya, seakan Pak Amin yang tidak puas dengan permohonan yang tidak lekas dikabulkan olehNya, ia pun terus memanjatkan doa yang masih sama seperti yang dilakukannya tadi sore.
Sambil menutup matanya dan terus merenungkan permohonannya tersebut, ia berkata dengan lirih, “Mungkin aku akan mendapatkan uang yang cukup melimpah. Di desa ini sudah banyak orang-orang yang sudah tua, dan mungkin mereka tidak akan lama lagi hidup di dunia ini.”
Dengan tersenyum-senyum sendiri, pikirannya pun menjadi tidak karuan. “Aku ingat sesuatu. Di desa seberang sana pun banyak terlihat orang-orang tua, bahkan jumlahnya lebih banyak,” kata Pak Amin seraya menggerakkan jari-jarinya, yang terlihat seperti sedang menghitung berapa banyaknya liang kubur yang harus ia buat apabila angan-angannya itu terwujud.
Sambil mendengar suara Bu Mariyem yang terbatuk-batuk dengan keras, Pak Amin terlihat tetap khusyuk berdoa. Sifatnya itu telah berubah. Seolah tak peduli lagi dengan istrinya, dan hanya sibuk berdoa agar banyak orang yang meninggal. Semakin timbul pula keinginannya untuk cepat-cepat mendapatkan uang.
Keesokan harinya, Pak Amin pergi ke pekuburan di desanya. Niatnya hanya ingin melihat-lihat saja, apabila ada orang-orang yang membutuhkan jasanya. Sengaja ia tidak meminta izin kepada istrinya yang terlihat semakin pucat. Sesampainya di sana, suasana masih terlihat sangat sepi. Hanya terlihat beberapa orang saja yang datang untuk sekedar berziarah ke makam saudara.
Pak Amin pun memutuskan untuk pergi ke pekuburan yang berada di desa seberang. Berharap akan ada masyarakat yang membutuhkan bantuannya. Walaupun jarak untuk menuju ke desa seberang cukup jauh, namun dengan harapan kuatnya itu ia tetap mengikuti kemauannya. Setibanya di sana, yang terlihat pun tidak jauh berbeda dengan suasana pekuburan di desanya.
Selang beberapa saat terlihat tetangga Pak Amin yang menghampirinya sambil berteriak. “Pak ! Pak Amin ! Di desa kita ada yang meninggal, Pak Amin harus segera membuatkan liang kubur,” ujarnya.
“Alhamdulillah, akhirnya doaku terkabul,” kata Pak Amin dalam hati. “Lalu siapa orang yang meninggal itu ?” tanya Pak Amin.
“Bu Mariyem !!!” teriak tetangganya itu dengan nada mengagetkan. “Astaghfirullah !!” kata Pak Amin. Terduduklah ia dengan perasaan campur aduk seakan tak mempercayainya. Tak terasa air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya. Dengan berlari ia pun pulang ke rumah dan mulai mengurusi jasad istrinya yang sudah tak bernyawa itu.
Setelah menguburkan istrinya, ia pun duduk termenung di depan makam sang istri, dan berusaha menahan tangis air matanya.
“Andaikan aku bisa menjagamu dengan baik, mendoakanmu agar lekas sembuh, dan tidak mendoakan agar siapa pun meninggal, pasti hal ini tidak akan terjadi. Mungkin Gusti Allah sudah mengabulkan permohonanku yang lalu, berusaha memberikan yang terbaik untukku, namun aku tidak rela jika engkau yang meninggal, istriku.” Ucap Pak Amin yang merasa sangat menyesal.

                                                                          By : Avin Apriliani


Senin, 29 Desember 2014

CERPEN



SEBUAH DOA YANG TERKABUL




 “Pak, ayo makan dulu,” kata Bu Mariyem seraya menyiapkan sepiring nasi dengan lawuh tempe. “Ya, sebentar Bu,” jawab Pak Amin yang sedang duduk di kursi kecil usang dan berdebu di depan rumah gedhek.
Letih yang dirasa. Peluh membasahi kening Pak Amin, yang sedari tadi baru saja pulang dari pekuburan. Sambil menaruh cangkul ke dalam rumah yang tadi dipakainya untuk menggali kubur, Pak Amin lalu menghampiri sang istri.
“Bu, kapan ya ada tetangga kita yang meninggal lagi ?” ucap Pak Amin. “Ya jangan bilang seperti itu Pak. Tidak baik kalau kita mendoakan orang lain seperti itu,” kata istrinya yang sudah paruh baya itu.
Lha mau bagaimana lagi, pekerjaan Bapak ya hanya sebagai tukang gali kubur ini. Kalau tidak ada orang yang meninggal, mau makan apa besok ?” ujar Pak Amin seraya mengusap peluh yang masih menetes di keningnya.
“Yang sabar dulu Pak. Mungkin Gusti Allah sedang menguji kesabaran kita,” kata sang istri sambil terbatuk-batuk. Maklum, sudah beberapa bulan ini banyak penyakit yang mulai menyerang tubuh Bu Mariyem.
Mendengar ucapan sang istri, Pak Amin pun merasa sedikit tenang. Dan tak terasa azan Asar pun terdengar. Setelah cukup lama pasangan suami istri tersebut mengobrol, akhirnya keduanya memutuskan untuk mengerjakan sholat Asar bersama.
Dengan air yang diambilnya dari sumur tua di belakang rumah, Pak Amin pun mulai membasuh muka. Melipat celana panjangnya hingga batas lututnya dan mulai membasahi kedua kakinya. Demikian pula dengan Bu Mariyem.
Setelah mengambil air wudhu, barulah keduanya melaksanakan sholat Asar bersama. Tak lama selang beberapa menit, Bu Mariyem pun telah selesai. “Pak, aku mau ke belakang rumah memetik bayam untuk aku jual besok ke pasar,” kata Bu Mariyem seraya meninggalkan Pak Amin sendirian yang terlihat sedang khusyuk berdoa. Meskipun dengan keadaan yang kurang sehat, Bu Mariyem tetap berusaha untuk melakukan pekerjaan yang dapat menghasilkan uang.
Namun, entah apa yang ada dalam pikiran Pak Amin. Hingga kurang lebih satu jam berlalu, ia masih saja terus memanjatkan doa. “Ya Allah, hambaMu ini hanya meminta satu permohonan. Tambahkanlah rezeki untuk hamba. Semoga dalam sebulan ini, banyak orang-orang yang meninggal, agar hambaMu ini bisa mendapatkan uang dari hasil menggali kubur,” ucap Pak Amin dalam hati. Selama itu pula ia terus berkata seperti itu hingga berulang-ulang.
Di belakang rumah, Bu Mariyem pun mulai terlihat kelelahan. Tangannya yang rapuh terus saja memetik satu per satu daun bayam, dan mulai mengikatnya dengan seutas bambu yang kecil dan panjang. Dengan terbatuk-batuk ia terus saja memetik daun-daun itu, seolah tak menghiraukan penyakit yang ia derita. Lama kelamaan batuknya tersebut menjadi semakin parah. Tak disangka-sangka batuknya itu menjadi batuk yang mengeluarkan darah.
“Astaghfirullah,” ucap Bu Mariyem dengan terkejut, sambil melihat darah yang bersimbah di tangannya. “Aku tidak mau jika Bapak tahu tentang ini,” kata Bu Mariyem dalam hati. Ia tidak mau membuat suaminya itu khawatir.
............... BERSAMBUNG

Tunggu lanjutan cerpen ini pada postingan selanjutnya ya ???

Sabtu, 27 Desember 2014

MY OPINION ABOUT ...



PROS AND CONS OF USING INTERNET



Many people like using internet, especially students. In this fact, there are arguments for and arguments against from this problem.




On the positive sides, internet can help students for education. In other words, students can finish their tasks from their teacher by browsing in internet.
On the negative sides, internet can make students addicted. Moreover, using internet can change students become egoist, because they will choose finish their tasks by browsing in internet than discussing it with their friends. The main negative effect is that they will have less time for social life.
From the arguments above, we should be careful when using internet. But, we cannot avoid ourselves from internet. What we can do is how we maximize its good effects and minimize the bad ones.
Do you agree ???

Jumat, 26 Desember 2014

MY OPINION ABOUT ...



HILANGNYA KEBUDAYAAN DAN KESENIAN TRADISIONAL DI INDONESIA



Indonesia adalah negara yang kaya akan kebudayaan dan kesenian tradisional. Kebudayaan dan kesenian tradisional ini sejatinya merupakan dua hal yang sangat erat kaitannya.













Namun sangat disayangkan, dewasa ini kesenian tradisional di Indonesia perlahan sudah mulai menghilang, tergeser oleh majunya zaman. Kesenian tradisional kini hanya menjadi kebudayaan masa lalu semata yang mungkin terbilang kuno dan sudah tidak mengikuti zaman.
Fenomena tersebut terjadi bukan karena tidak ada sebabnya. Perilaku generasi muda lah yang menjadi salah satu faktor utama penyebab hilangnya kesenian tradisional di Indonesia. Pada saat ini, generasi muda merasa acuh terhadap hilangnya kesenian tradisional dari negara kita sendiri. Mereka lebih tertarik dengan kebudayaan modern dari luar negara. Selain itu, mereka juga lebih bangga menerapkan budaya asing yang didominasi oleh budaya barat.
Padahal, apabila kesenian tradisional negara kita hilang, negara kita hanya akan dipandang sebagai negara yang tidak memiliki suatu kebudayaan. Oleh karena itu, sudah sepatutnya lah kita harus menjaga dan melestarikan kesenian tradisional yang lahir dari warisan leluhur nenek moyang kita.
Lalu sebagai generasi muda, apakah yang harus kita perbuat saat ini ??? LEBIH PEDULI lah jawabnya. LEBIH PEDULI terhadap kebudayaan Indonesia, dan LEBIH PEDULI terhadap kesenian tradisional Indonesia.







Kamis, 25 Desember 2014

MY OPINION ABOUT ...



PEMANASAN GLOBAL

Pemanasan global merupakan salah satu permasalahan utama di dunia. Dampak dari pemanasan global yang telah kita rasakan adalah suhu bumi yang semakin panas, yang menyebabkan cuaca tidak menentu, kebakaran hutan, dan kekeringan. Dampak yang sangat mengerikan ini sebenarnya dapat kita kurangi apabila setiap individu yang ada di bumi ini memiliki kesadaran untuk ikut mengurangi aktivitas yang dapat memperparah terjadinya pemanasan global.
Salah satu cara yang terbilang mudah, murah, dan dapat dilakukan oleh setiap orang untuk mengurangi dampak pemanasan global adalah dengan membiasakan berjalan kaki dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari atau dengan memilih menggunakan sepeda jika jarak yang kita tempuh tidak terlalu jauh. Dengan melakukan kegiatan tersebut, berarti kita bisa mengurangi pengeluaran gas karbon dioksida yang berasal dari kendaraan bermotor. Sehingga, dapat dikatakan bahwa kita telah berusaha untuk mencegah memburuknya keadaan planet bumi.



Kita hidup di bumi ini, kita makan, minum, dan menghirup udara dari bumi ini. Kalau bukan kita yang menjaga, lalu siapa ??? Dengan menjaga kelestarian bumi, berarti kita telah berusaha untuk menyelamatkan hidup kita dan anak cucu kita