SEBUAH DOA YANG TERKABUL
LANJUTAN ...............
Tak lama, langit yang semula cerah mulai
terlihat mendung. Dan pada malam harinya, seakan Pak Amin yang tidak puas
dengan permohonan yang tidak lekas dikabulkan olehNya, ia pun terus memanjatkan
doa yang masih sama seperti yang dilakukannya tadi sore.
Sambil menutup matanya dan terus
merenungkan permohonannya tersebut, ia berkata dengan lirih, “Mungkin aku akan
mendapatkan uang yang cukup melimpah. Di desa ini sudah banyak orang-orang yang
sudah tua, dan mungkin mereka tidak akan lama lagi hidup di dunia ini.”
Dengan tersenyum-senyum sendiri, pikirannya
pun menjadi tidak karuan. “Aku ingat sesuatu. Di desa seberang sana pun banyak
terlihat orang-orang tua, bahkan jumlahnya lebih banyak,” kata Pak Amin seraya
menggerakkan jari-jarinya, yang terlihat seperti sedang menghitung berapa
banyaknya liang kubur yang harus ia buat apabila angan-angannya itu terwujud.
Sambil mendengar suara Bu Mariyem yang
terbatuk-batuk dengan keras, Pak Amin terlihat tetap khusyuk berdoa. Sifatnya
itu telah berubah. Seolah tak peduli lagi dengan istrinya, dan hanya sibuk
berdoa agar banyak orang yang meninggal. Semakin timbul pula keinginannya untuk
cepat-cepat mendapatkan uang.
Keesokan harinya, Pak Amin pergi ke
pekuburan di desanya. Niatnya hanya ingin melihat-lihat saja, apabila ada
orang-orang yang membutuhkan jasanya. Sengaja ia tidak meminta izin kepada
istrinya yang terlihat semakin pucat. Sesampainya di sana, suasana masih
terlihat sangat sepi. Hanya terlihat beberapa orang saja yang datang untuk
sekedar berziarah ke makam saudara.
Pak Amin pun memutuskan untuk pergi ke
pekuburan yang berada di desa seberang. Berharap akan ada masyarakat yang
membutuhkan bantuannya. Walaupun jarak untuk menuju ke desa seberang cukup
jauh, namun dengan harapan kuatnya itu ia tetap mengikuti kemauannya. Setibanya
di sana, yang terlihat pun tidak jauh berbeda dengan suasana pekuburan di
desanya.
Selang beberapa saat terlihat tetangga Pak
Amin yang menghampirinya sambil berteriak. “Pak ! Pak Amin ! Di desa kita ada
yang meninggal, Pak Amin harus segera membuatkan liang kubur,” ujarnya.
“Alhamdulillah, akhirnya doaku terkabul,”
kata Pak Amin dalam hati. “Lalu siapa orang yang meninggal itu ?” tanya Pak
Amin.
“Bu Mariyem !!!” teriak tetangganya itu dengan
nada mengagetkan. “Astaghfirullah !!” kata Pak Amin. Terduduklah ia dengan
perasaan campur aduk seakan tak mempercayainya. Tak terasa air matanya mulai
menggenang di pelupuk matanya. Dengan berlari ia pun pulang ke rumah dan mulai
mengurusi jasad istrinya yang sudah tak bernyawa itu.
Setelah menguburkan istrinya, ia pun duduk
termenung di depan makam sang istri, dan berusaha menahan tangis air matanya.
“Andaikan aku bisa menjagamu dengan baik,
mendoakanmu agar lekas sembuh, dan tidak mendoakan agar siapa pun meninggal,
pasti hal ini tidak akan terjadi. Mungkin Gusti Allah sudah mengabulkan
permohonanku yang lalu, berusaha memberikan yang terbaik untukku, namun aku
tidak rela jika engkau yang meninggal, istriku.” Ucap Pak Amin yang merasa
sangat menyesal.
By
: Avin Apriliani
wah.. tebakannya mima bner nih..
BalasHapusakhirnya jd sad ending :'(
Akhirnya istrinya meninggal :(. Emm..
BalasHapuscerpennya cukup simpel tapi punya makna bagus. great!!
Sad ending :(
BalasHapussedih deh istrinya meninggal. suaminya cuma mau doanya terkabul, eh istrinya mlah pergi...
BalasHapus