SEBUAH
DOA YANG TERKABUL
“Pak, ayo makan dulu,” kata Bu Mariyem
seraya menyiapkan sepiring nasi dengan lawuh
tempe. “Ya, sebentar Bu,” jawab Pak Amin yang sedang duduk di kursi kecil
usang dan berdebu di depan rumah gedhek.
Letih yang dirasa. Peluh membasahi kening
Pak Amin, yang sedari tadi baru saja pulang dari pekuburan. Sambil menaruh
cangkul ke dalam rumah yang tadi dipakainya untuk menggali kubur, Pak Amin lalu
menghampiri sang istri.
“Bu, kapan ya ada tetangga kita yang
meninggal lagi ?” ucap Pak Amin. “Ya jangan bilang seperti itu Pak. Tidak baik
kalau kita mendoakan orang lain seperti itu,” kata istrinya yang sudah paruh
baya itu.
“Lha
mau bagaimana lagi, pekerjaan Bapak ya hanya sebagai tukang gali kubur ini.
Kalau tidak ada orang yang meninggal, mau makan apa besok ?” ujar Pak Amin
seraya mengusap peluh yang masih menetes di keningnya.
“Yang sabar dulu Pak. Mungkin Gusti Allah
sedang menguji kesabaran kita,” kata sang istri sambil terbatuk-batuk. Maklum,
sudah beberapa bulan ini banyak penyakit yang mulai menyerang tubuh Bu Mariyem.
Mendengar ucapan sang istri, Pak Amin pun
merasa sedikit tenang. Dan tak terasa azan Asar pun terdengar. Setelah cukup
lama pasangan suami istri tersebut mengobrol, akhirnya keduanya memutuskan
untuk mengerjakan sholat Asar bersama.
Dengan air yang diambilnya dari sumur tua
di belakang rumah, Pak Amin pun mulai membasuh muka. Melipat celana panjangnya
hingga batas lututnya dan mulai membasahi kedua kakinya. Demikian pula dengan
Bu Mariyem.
Setelah mengambil air wudhu, barulah
keduanya melaksanakan sholat Asar bersama. Tak lama selang beberapa menit, Bu
Mariyem pun telah selesai. “Pak, aku mau ke belakang rumah memetik bayam untuk
aku jual besok ke pasar,” kata Bu Mariyem seraya meninggalkan Pak Amin
sendirian yang terlihat sedang khusyuk berdoa. Meskipun dengan keadaan yang
kurang sehat, Bu Mariyem tetap berusaha untuk melakukan pekerjaan yang dapat
menghasilkan uang.
Namun, entah apa yang ada dalam pikiran Pak
Amin. Hingga kurang lebih satu jam berlalu, ia masih saja terus memanjatkan
doa. “Ya Allah, hambaMu ini hanya meminta satu permohonan. Tambahkanlah rezeki
untuk hamba. Semoga dalam sebulan ini, banyak orang-orang yang meninggal, agar
hambaMu ini bisa mendapatkan uang dari hasil menggali kubur,” ucap Pak Amin
dalam hati. Selama itu pula ia terus berkata seperti itu hingga berulang-ulang.
Di belakang rumah, Bu Mariyem pun mulai
terlihat kelelahan. Tangannya yang rapuh terus saja memetik satu per satu daun
bayam, dan mulai mengikatnya dengan seutas bambu yang kecil dan panjang. Dengan
terbatuk-batuk ia terus saja memetik daun-daun itu, seolah tak menghiraukan
penyakit yang ia derita. Lama kelamaan batuknya tersebut menjadi semakin parah.
Tak disangka-sangka batuknya itu menjadi batuk yang mengeluarkan darah.
“Astaghfirullah,” ucap Bu Mariyem dengan
terkejut, sambil melihat darah yang bersimbah di tangannya. “Aku tidak mau jika
Bapak tahu tentang ini,” kata Bu Mariyem dalam hati. Ia tidak mau membuat
suaminya itu khawatir.
...............
BERSAMBUNG
Tunggu
lanjutan cerpen ini pada postingan selanjutnya ya ???

halahh,, ngopo dadak bersambung?? marai penasaran wae.. hahahaa
BalasHapusIya nih avin, bikin penasaran aje.. -,-
BalasHapusiya ih,, aku tebak,, nanti yg meninggal bu Mariyem ya..hhe (hanya tebakan saja)
BalasHapus