Senin, 29 Desember 2014

CERPEN



SEBUAH DOA YANG TERKABUL




 “Pak, ayo makan dulu,” kata Bu Mariyem seraya menyiapkan sepiring nasi dengan lawuh tempe. “Ya, sebentar Bu,” jawab Pak Amin yang sedang duduk di kursi kecil usang dan berdebu di depan rumah gedhek.
Letih yang dirasa. Peluh membasahi kening Pak Amin, yang sedari tadi baru saja pulang dari pekuburan. Sambil menaruh cangkul ke dalam rumah yang tadi dipakainya untuk menggali kubur, Pak Amin lalu menghampiri sang istri.
“Bu, kapan ya ada tetangga kita yang meninggal lagi ?” ucap Pak Amin. “Ya jangan bilang seperti itu Pak. Tidak baik kalau kita mendoakan orang lain seperti itu,” kata istrinya yang sudah paruh baya itu.
Lha mau bagaimana lagi, pekerjaan Bapak ya hanya sebagai tukang gali kubur ini. Kalau tidak ada orang yang meninggal, mau makan apa besok ?” ujar Pak Amin seraya mengusap peluh yang masih menetes di keningnya.
“Yang sabar dulu Pak. Mungkin Gusti Allah sedang menguji kesabaran kita,” kata sang istri sambil terbatuk-batuk. Maklum, sudah beberapa bulan ini banyak penyakit yang mulai menyerang tubuh Bu Mariyem.
Mendengar ucapan sang istri, Pak Amin pun merasa sedikit tenang. Dan tak terasa azan Asar pun terdengar. Setelah cukup lama pasangan suami istri tersebut mengobrol, akhirnya keduanya memutuskan untuk mengerjakan sholat Asar bersama.
Dengan air yang diambilnya dari sumur tua di belakang rumah, Pak Amin pun mulai membasuh muka. Melipat celana panjangnya hingga batas lututnya dan mulai membasahi kedua kakinya. Demikian pula dengan Bu Mariyem.
Setelah mengambil air wudhu, barulah keduanya melaksanakan sholat Asar bersama. Tak lama selang beberapa menit, Bu Mariyem pun telah selesai. “Pak, aku mau ke belakang rumah memetik bayam untuk aku jual besok ke pasar,” kata Bu Mariyem seraya meninggalkan Pak Amin sendirian yang terlihat sedang khusyuk berdoa. Meskipun dengan keadaan yang kurang sehat, Bu Mariyem tetap berusaha untuk melakukan pekerjaan yang dapat menghasilkan uang.
Namun, entah apa yang ada dalam pikiran Pak Amin. Hingga kurang lebih satu jam berlalu, ia masih saja terus memanjatkan doa. “Ya Allah, hambaMu ini hanya meminta satu permohonan. Tambahkanlah rezeki untuk hamba. Semoga dalam sebulan ini, banyak orang-orang yang meninggal, agar hambaMu ini bisa mendapatkan uang dari hasil menggali kubur,” ucap Pak Amin dalam hati. Selama itu pula ia terus berkata seperti itu hingga berulang-ulang.
Di belakang rumah, Bu Mariyem pun mulai terlihat kelelahan. Tangannya yang rapuh terus saja memetik satu per satu daun bayam, dan mulai mengikatnya dengan seutas bambu yang kecil dan panjang. Dengan terbatuk-batuk ia terus saja memetik daun-daun itu, seolah tak menghiraukan penyakit yang ia derita. Lama kelamaan batuknya tersebut menjadi semakin parah. Tak disangka-sangka batuknya itu menjadi batuk yang mengeluarkan darah.
“Astaghfirullah,” ucap Bu Mariyem dengan terkejut, sambil melihat darah yang bersimbah di tangannya. “Aku tidak mau jika Bapak tahu tentang ini,” kata Bu Mariyem dalam hati. Ia tidak mau membuat suaminya itu khawatir.
............... BERSAMBUNG

Tunggu lanjutan cerpen ini pada postingan selanjutnya ya ???

3 komentar:

  1. halahh,, ngopo dadak bersambung?? marai penasaran wae.. hahahaa

    BalasHapus
  2. Iya nih avin, bikin penasaran aje.. -,-

    BalasHapus
  3. iya ih,, aku tebak,, nanti yg meninggal bu Mariyem ya..hhe (hanya tebakan saja)

    BalasHapus